Edukasi Keuangan Digital, Bank Indonesia Gelar Program “BI Mengajar” di Aula Kampus 2 UMMA

MAROS, 28 Januari 2026 – Dalam upaya meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda, Bank Indonesia (BI) sukses menggelar kegiatan “BI Mengajar” yang bertempat di Aula Kampus 2 UMMA (Universitas Muslim Maros). Acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang antusias menyerap ilmu langsung dari para praktisi bank sentral.

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri ahli dari Bank Indonesia yang mengupas tuntas dinamika perekonomian nasional hingga transformasi digital dalam sistem pembayaran.

Sesi I: Menjaga Stabilitas Rupiah dan Memahami Inflasi
Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Ibu Riski Santika Putri. Dalam sesinya, beliau membedah secara mendalam mengenai Analisis Sistem Pembayaran dan peran krusial Bank Indonesia dalam perekonomian.

Beliau menjelaskan bahwa Bank Indonesia memiliki tiga tujuan utama demi menjaga roda ekonomi tetap berputar dengan sehat, yaitu:

Menjaga stabilitas nilai rupiah

Menjaga stabilitas sistem keuangan

Menjaga stabilitas perekonomian

Terkait isu inflasi, Ibu Riski meluruskan pemahaman mahasiswa bahwa besaran target inflasi ditetapkan oleh pemerintah. Inflasi sendiri diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang terjadi secara terus-menerus. Beliau juga menambahkan bahwa salah satu pemicu utama inflasi adalah terlalu banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Untuk mengendalikan hal tersebut, BI menggunakan BI Rate sebagai suku bunga acuan.

Tak hanya itu, mahasiswa juga diajak kilas balik ke masa krisis keuangan tahun 1998 yang mengguncang seluruh kawasan Asia, serta krisis finansial global tahun 2008 yang berdampak besar bagi negara-negara maju. Di akhir sesinya, beliau menekankan pentingnya menjaga stabilitas sistem pembayaran yang saat ini terbagi menjadi dua pilar: Tunai dan Nontunai.

Sesi II: Adaptasi QRIS dan Antisipasi Bahaya Judi Online
Memasuki sesi kedua, Ibu Satria Oktaviani hadir membawakan materi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi Z, yakni digitalisasi pembayaran dan tantangan kejahatan siber.

Beliau memaparkan masifnya penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai solusi pembayaran nontunai yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal (CeMUAH). QRIS kini telah menjadi motor penggerak ekonomi digital nasional dari level UMKM hingga korporasi besar.

Namun, di balik kemudahan teknologi tersebut, Ibu Satria juga memberikan peringatan keras (warning) terkait maraknya Judi Online yang tengah menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Beliau memaparkan bagaimana aktivitas ilegal ini tidak hanya merusak kondisi finansial pribadi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan jika tidak diantisipasi bersama.

Acara “BI Mengajar” ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para mahasiswa UMMA tampak aktif melontarkan berbagai pertanyaan kritis seputar kebijakan moneter dan tren pembayaran masa depan.

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *