PKKMB UMMA 2026: Cetak Generasi Muda Melek Investasi di Era Digital

MAROS – Dalam upaya membekali mahasiswa baru dengan kecerdasan finansial, Universitas Muslim Maros (UMMA) sukses menggelar Kuliah Umum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) pada Sabtu, 19 September 2026. Mengusung tema “Generasi Muda Melek Investasi: Membangun Masa Depan Finansial di Era Digital”, acara ini menghadirkan dua pakar pasar modal sebagai narasumber utama, yakni Bapak Alberto Fasaamuri Dachi selaku Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulawesi Selatan dan Bapak Afdal Murti Perdana selaku Branch Manager KB Valbury Sekuritas (KBVS) Cabang Makassar.
Dalam pemaparannya, Alberto Fasaamuri Dachi menyoroti realitas dan tantangan masa depan yang dihadapi oleh Generasi Z. Tantangan tersebut mencakup sulitnya mencari pekerjaan, kenaikan harga barang dan properti yang memicu inflasi, hingga ancaman terjerat utang. Ia menekankan bahwa investasi sangat krusial sebagai perisai untuk melawan inflasi dan menyiapkan kestabilan finansial di masa pensiun. Saat ini, pasar modal sudah semakin mudah diakses dan terjangkau oleh generasi muda, di mana pembelian instrumen saham bisa dimulai dari satuan satu lot atau setara dengan 100 lembar. Menariknya, Alberto juga memaparkan tren inovatif di kalangan anak muda saat ini, yakni memanfaatkan saham tidak sekadar sebagai instrumen pelipatgandaan kekayaan, melainkan juga sebagai wakaf, warisan, mahar pernikahan, hingga kado wisuda dan ulang tahun.
Melengkapi wawasan tersebut, Afdal Murti Perdana dari KBVS Makassar mengajak para mahasiswa untuk memahami siklus keuangan dalam kehidupan yang terbagi ke dalam masa pendidikan, masa berkarir, dan masa pensiun. Afdal menekankan pentingnya membangun penghasilan pasif (passive income) sedini mungkin agar terbebas dari jebakan rat race—sebuah kondisi di mana seseorang bekerja keras, namun gajinya hanya habis untuk membayar cicilan dan gaya hidup tanpa bisa mencapai kebebasan finansial. Ia juga memperingatkan lima kebiasaan buruk yang dapat membuat seseorang miskin di hari tua, yaitu:
  • Perencanaan keuangan yang gagal.
  • Mengatur tujuan yang tidak realistis.
  • Sering membuat keputusan yang buruk akibat keadaan sesaat.
  • Bersikap gegabah.
  • Suka menunda-nunda.
Untuk membangun fondasi yang sehat, Afdal menyarankan mahasiswa untuk menerapkan aturan budgeting, salah satunya dengan rasio 50/30/20, yakni membagi pendapatan dengan porsi 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% khusus untuk tabungan atau investasi.
Lebih lanjut, Afdal membagikan panduan praktis untuk menjadi investor cerdas melalui prinsip “3P”, yaitu Paham, Punya, dan Pantau. Ia menegaskan bahwa berinvestasi bukanlah sebuah proses yang instan, melainkan butuh orientasi jangka panjang serta upaya konsisten yang dilakukan secara rutin dan berkala. Menutup pemaparannya, ia mengutip pesan legendaris dari Warren Buffett: “Jika Anda tidak menemukan cara untuk menghasilkan uang saat Anda tidur, Anda akan bekerja sampai Anda mati”.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa baru UMMA diharapkan mampu membuka wawasan, mengubah pola pikir dari konsumtif menjadi produktif, dan berani mengambil langkah awal sebagai investor demi menyongsong masa depan finansial yang tangguh di era digital.
Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *