Al-Qalam UMMA, Akan Kawal Kemajuan Dunia Literasi Maros

MAROS — Literasi menjadi hal pokok dalam tumbuh kembang suatu bangsa, dan menjadi salah satu indikator kemajuan sebuah negara. Budaya membaca, menulis, diskusi, dan kajian-kajian menjadi sesuatu yang tak lagi banyak dirutinkan oleh kalangan mahasiswa, khususnya di kabupaten Maros.

Kekhawatiran akan matinya budaya literasi, tumbuh dan meracuni pikiran beberapa mahasiswa yang ada di Universitas Muslim Maros (UMMA). Mereka yang berasal dari beberapa fakultas, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Pertanian Peternakan dan Kehutanan (FAPERTAHUT) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) kemudian sepakat untuk membentuk wadah yang mereka beri nama Al-Qalam, sebutan bagi organisasi berjenis Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik di UMMA.

Tujuan dari terbentuknya lembaga internal kampus UMMA tersebut adalah peningkatan terhadap minat baca, menulis, kajian. Atau boleh disebut bergerak dalam dunia jurnalistik dan literasi, sebagaimana namanya, UKM JURNALISTIK AL-QALAM UMMA.

Wakil Rektor I UMMA, Muhammad Nurjaya, M.Sos., M.Si menyampaikan kebanggaan atas kehadiran Al-Qalam, karena berperan aktif dan peduli terhadap pengembangan literasi.

“Tentu patut kita apresiasi, Al-Qalam ini menjadi titik balik kemajuan literasi di Maros. Kita harapkan ini menjadi angin segar bagi kampus UMMA, selain mencerdaskan mahasiswa juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kita harapkan kedepannya, lembaga ini mampu berakselerasi dalam hal pengembangan literasi,” ungkapnya.

Salah satu kegiatan yang baru saja dilaksanakan, DIKSI (Diskusi Literasi) sebagai bentuk ransangan terhadap minat literasi mahasiswa UMMA khususnya dan masyarakat pada umumnya di kabupaten Maros, yang mengangkat tema “Apa Kabar Literasi Mahasiswa UMMA Hari Ini?”.

Dengan menghadirkan pembicara, Syamsul Bakhtiar Assegaf (pegiat seni dan literasi di Maros), Fitrawahyudi (ketua Salewangang Institute) dan Muh. Ramli (Akademisi). Diskusi santai tersebut kemudian mengalir dalam membahas persoalan sejarah literasi hingga metode menarik untuk menumbuhkan minat literasi dari hal terkecil.

Tiar, sapaan akrab Syamsul Bakhtiar Assegaf berpendapat, dalam menumbuhkan semangat baca atau kegiatan literasi khususnya lingkup mahasiswa itu mesti dilakukan dari hal terkecil dengan sentuhan seni. Karena dari seni, sesuatu yang menarik untuk orang dapat berminat dalam membaca.

“Ada keterikatan kuat antara seni dan literasi, dan itu hal yang mesti kita pahami bersama. Dengan peran seni, kita bisa menumbuhkan minat baca. Sesuatu yang menarik, akan membuat orang secara tulus dalam melakukan suatu kegiatan, dalam hal ini minat baca kita,” tutur Tiar.

Sejalan, Ketua Salewangang Institute, Fitrawahyudi mengungkapkan, memang agak riskan melihat mahasiswa saat ini. Budaya membaca itu sangat minim, padahal mahasiswa dahulu itu dikenali karena intelektualitasnya, dari kegiatan-kegiatan rutin yang berbau literasi.

“Kita bisa berkaca pada Soe Hok Gie, beliau ke gunung, merenung, menulis. Mahasiswa di angkatan saya misalnya, ketika di kantin, kami rutin berdiskusi. Membahas banyak hal, baik dari segi sosial, politik, kebudayaan hingga ketuhanan. Dan itu yang jarang kita temui sekarang, khususnya di Maros. Saya kira kehadiran Al-Qalam UMMA ini menjadi harapan baru, wadah untuk pengembangan literasi kita. Khususnya di kampus UMMA, dan Maros umumnya,” papar pria yang juga merupakan dosen tersebut.

Al-Qalam dikabarkan akan segera dilantik kepengurusannya, dan akan melakukan pengabdian dalam dunia jurnalistik dan literasi.

“Dekat ini kami akan melakukan pelantikan, setelahnya kami akan mengabdi untuk kerja-kerja jurnalistik dan dunia literasi. Kami tentu berharap minat baca dari mahasiswa di UMMA dapat terangsang dari kehadiran kami ini.” tutup Iqbal, ketua UKM Jurnalistik Al-Qalam UMMA (8/9/2019).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *